infobekasi.co.id – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai wilayah Jabodetabek memicu perhatian publik. Ikan yang dikenal sebagai pembersih lumut akuarium itu kini dikategorikan sebagai spesies invasif, lantaran dinilai merusak ekosistem, mengancam keberadaan ikan lokal, hingga merusak struktur bantaran sungai.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 17 April 2026, melakukan operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu di lima wilayah kota administrasi. Operasi tersebut menyasar saluran air dan sungai yang telah dipenuhi ikan tersebut.
Sebelumnya, petugas gabungan juga melakukan penangkapan di Kali Cideng, Jakarta Pusat. Ikan yang tertangkap kemudian dimusnahkan mengingat daya tahan hidup spesies ini sangat tinggi sehingga populasinya sulit dikendalikan.
Data berbagai sumber, Ikan sapu-sapu bukan spesies asli Indonesia. Ikan ini berasal dari kawasan Amerika Selatan, terutama sistem Sungai Amazon dan Orinoco. Masuknya ke Indonesia diduga melalui jalur perdagangan ikan hias, karena dahulu populer digunakan sebagai pembersih kaca akuarium. Namun, ketika dilepasliarkan ke perairan umum, ikan ini berkembang liar dan sulit ditangani.
Jenis yang banyak ditemukan di Indonesia berasal dari genus Pterygoplichthys. Ikan ini dikenal sangat bandel (tangguh), mampu bertahan hidup di air tercemar dengan kadar oksigen rendah, serta memiliki kemampuan berkembang biak sangat cepat sehingga populasinya mudah meledak.
Di Kali Ciliwung, upaya pengendalian juga dilakukan warga secara mandiri. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Arief Kamarudin, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Ia rutin turun ke sungai menangkap ikan sapu-sapu sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai bahaya spesies invasif tersebut.
Arief menyebut, dominasi ikan sapu-sapu membuat ikan lokal makin sulit ditemukan. Ia juga menilai ikan ini memperparah kerusakan sungai karena kebiasaan menggali lubang di dinding bantaran untuk bertelur, yang dapat memicu longsor kecil dan merusak turap sungai.
Fenomena serupa juga terlihat di Kali Bekasi, khususnya kawasan Margahayu, Bekasi Timur. Warga setempat rutin menjaring dan memancing ikan sapu-sapu yang jumlahnya sangat melimpah hingga menjadi pemandangan harian.
Sebagian warga bahkan menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan tersebut. Ikan tersebut dijual sekitar Rp15 ribu per kilogram kepada pasar atau pedagang pengolah makanan. Beberapa warga mengaku telah bertahun-tahun menjadikan penangkapan ikan ini sebagai sumber nafkah.
Keberadaan ikan sapu-sapu juga disebut telah menyingkirkan ikan lokal yang dulu mudah ditemukan, seperti mujair dan jenis ikan konsumsi lainnya. Hal ini menunjukkan dominasi spesies invasif tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga sudah meluas ke daerah penyangga.
Selain persoalan lingkungan, ikan sapu-sapu juga ramai diperbincangkan terkait dugaan penggunaannya sebagai bahan campuran makanan murah seperti siomay. Ikan ini dimanfaatkan karena harganya jauh lebih murah dibanding ikan konsumsi umum. Namun, pemerintah mengingatkan bahwa ikan hasil tangkapan liar dari sungai tercemar berisiko tinggi dan tidak layak dikonsumsi tanpa melalui uji laboratorium terlebih dahulu.
Penanganan ikan sapu-sapu tidak cukup hanya lewat penangkapan massal. Diperlukan langkah komprehensif seperti pengawasan ketat perdagangan ikan asing, larangan melepas ikan peliharaan ke alam liar, perbaikan kualitas air, serta pemulihan habitat ikan lokal agar ekosistem sungai dapat kembali seimbang.
#IkanSapu-Sapu #Infobekasi #Sungai #Ikan
*Data diolah dari berbagai sumber
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli