Berita Utama Info Bekasi

Di Balik Gerbong Hancur, Ada Perjuangan dan Kepedihan Para Personel Damkar

02 May 2026 Administrator Desa

Infobekasi.co.id – Bagi para petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan, malam tanggal 27 April 2026 menjadi peristiwa yang tak akan terlupakan. Bukan tugas biasa yang mereka hadapi, melainkan peristiwa memilukan pasca tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur.

Malam itu, mereka tidak hanya bertugas, tetapi juga menyaksikan dan berjuang di tengah kepedihan mendalam. Hendrick, Komandan Tim Penyelamat Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bekasi, masih teringat jelas momen saat telepon berdering di tengah kesibukan.

“Tepat pukul 21.06 malam, kami mendapat kabar dari pihak Kereta Api Indonesia. Awalnya hanya diberitahu ada orang terjepit di dalam gerbong. Setelah kami tanyakan lebih lanjut, hati kami seketika terasa berat. Kabar yang kami terima ternyata jauh lebih buruk, telah terjadi tabrakan hebat dan banyak nyawa yang melayang,” tutur Hendrick dengan nada yang masih menyimpan kesedihan, saat bercerita pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Tanpa menunda waktu sedikit pun, sebanyak 30 orang petugas yang terbagi dalam lima regu langsung berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana, pemandangan mereka temui jauh berbeda dari tugas-tugas biasa mereka jalani. Tidak ada kobaran api yang dipadamkan, melainkan keributan diwarnai kepanikan, tangisan, dan teriakan minta tolong dari para penumpang dan warga ada di sekitar lokasi. Suasana begitu sesak dan mencekam, namun mereka harus tetap tegar demi menjalankan tugas mulia.

Dibantu petugas keamanan dan aparat keamanan lainnya, tim segera diarahkan menuju bagian gerbong khusus penumpang wanita, tempat di mana benturan terjadi dengan kekuatan paling dahsyat. Gerbong itu sudah hancur dan berubah bentuk, di situlah harapan dan tanggung jawab mereka terpusat. Satu per satu petugas masuk ke dalam, membawa peralatan seadanya dan penuh harapan, mulai dari gergaji, linggis, hingga alat bantu pernapasan, semuanya digunakan untuk membuka jalan dan menjangkau mereka masih butuh pertolongan.

“Hal pertama yang kami lakukan adalah memastikan lokasi aman, karena banyak orang berkumpul dan itu justru menyulitkan proses penyelamatan. Kami minta bantuan petugas keamanan dan aparat untuk mengatur keadaan, supaya kami bisa bergerak dengan leluasa. Setelah semuanya siap, kami mulai bekerja keras, menggeser bangku yang berlipat dan menindih, memotong bagian rangkaian menghalangi, dan berusaha sekuat tenaga mengeluarkan mereka terjepit. Malam itu, prioritas kami adalah mereka kondisinya paling parah dan masih ada harapan, serta merawat dengan penuh hormat mereka yang sudah tiada,” ujar Hendrick.

Setiap langkah yang diambil harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Benturan yang terjadi begitu keras hingga membuat seluruh isi gerbong berhimpitan satu sama lain, sebagian besar korban adalah kaum wanita yang sedang menempuh perjalanan pulang atau berangkat.

“Rasanya sangat terenyuh melihat keadaan itu. Saya dan seluruh tim hanya bisa berpikir satu hal: kami harus bisa menolong mereka. Banyak di antara mereka adalah ibu, saudara perempuan, anak perempuan yang ditunggu kepulangannya oleh keluarga di rumah. Hati kami ikut sedih, tapi kami tahu kami tidak boleh berhenti, karena masih ada nyawa yang bisa kami selamatkan,” tuturnya.

Di tengah suasana yang penuh kepedihan itu, suara tangisan dan permohonan tolong menjadi pengingat bagi mereka betapa berharganya setiap detik yang berlalu. Mereka bergerak cepat namun tetap lembut, membedakan mana yang masih bisa diselamatkan dan mana yang sudah pergi untuk selamanya.

“Kami mengutamakan mereka yang masih bisa berkomunikasi dan membutuhkan pertolongan secepatnya. Pekerjaan menjadi sulit saat kami menemukan ada korban yang masih hidup namun terjepit di samping mereka yang sudah meninggal. Kami harus berusaha sebaik mungkin agar tidak menimbulkan rasa sakit lebih banyak lagi. Kebanyakan korban yang meninggal tertindih oleh bagian rangkaian dan bangku yang berat, sehingga butuh waktu lama untuk mengevakuasi mereka dengan penuh penghormatan,” kenangnya.

Bagi Hendrick dan rekan-rekannya, peristiwa ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan sekaligus pelajaran berharga. Meski sudah sering menghadapi berbagai situasi sulit, peristiwa ini terasa berbeda karena menyangkut nyawa banyak orang.

“Ini menjadi momen yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya bertugas. Ini adalah ujian terberat yang pernah kami hadapi, karena kami tidak hanya bekerja dengan tenaga, tapi juga dengan perasaan. Semua harus berjalan dengan teratur, kami harus saling mendukung dan bekerja sama sebagai satu kesatuan,” ujarnya.

Ia mengaku sangat terkejut mendengar jumlah korban jiwa yang mencapai 16 orang, semuanya adalah wanita. Peristiwa ini membuatnya berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.

“Semua ini sangat memilukan. Saya berharap kepada pihak-pihak yang berwenang untuk benar-benar mengevaluasi setiap aspek perjalanan kereta api. Jangan sampai ada jalur atau peralatan yang tidak terjamin keamanannya. Hal ini sangat penting demi keselamatan semua orang yang menumpang, karena setiap nyawa itu berharga dan ditunggu oleh keluarga di rumah,” pungkasnya dengan penuh harap.

Sumber Berita:

Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Baca di Sumber Asli
Bagikan: