BEKASISATU, KOTA BEKASI – Program Bantuan Dana Hibah Rp100 juta per RW membawa angin segar bagi pengelolaan lingkungan di Kota Bekasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat kini memasang target ambisius untuk mengaktifkan lebih dari 1.000 Bank Sampah di berbagai wilayah binaan sepanjang tahun ini.
Berdasarkan data dari Bank Sampah Induk Patriot (BSIP), dorongan dana hibah tersebut terbukti sukses mendongkrak partisipasi masyarakat. Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengungkapkan bahwa sebelum program ini diluncurkan, hanya ada sekitar 325 Bank Sampah yang beroperasi aktif.
”Namun begitu programnya Pak Wali dilaunching di akhir tahun 2025, pendirian Bank Sampah ini naik dari dua kali lipat, dari yang mulanya 300 sekian, menjadi 657,” ujar Kiswatiningsih dikutip, Kamis (16/04/26)
Meski mengalami lonjakan drastis, DLH mencatat tugas belum usai. Dari total 1.020 RW di Kota Bekasi, masih tersisa sekitar 400-an Bank Sampah yang belum beroperasi secara mandiri maupun rutin melakukan penimbangan. Kelompok inilah yang kini menjadi sasaran utama monitoring dan evaluasi secara berkala.
”Nah, yang 657 Bank Sampah yang sudah mandiri ini tetap kita jaga biar tetap bergerak. Sambil kita monitoring evaluasi untuk yang 400 (sisanya yang belum mandiri) itu menjadi target kita di tahun ini. Harapannya tahun ini 1.000 Bank Sampah lebih itu bisa bergerak semua,” tegasnya.
Di lapangan, dinamika dan tantangan yang dihadapi pengurus cukup beragam. Mulai dari penertiban SK Kepengurusan hingga pencarian lokasi strategis untuk penampungan yang kerap menjadi kendala bagi wilayah padat penduduk.
Menanggapi efektivitas program ini, Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengakui bahwa geliat Bank Sampah sudah mulai menunjukkan dampak positif di tengah masyarakat. Kendati demikian, ia menyoroti bahwa tingkat pengurangan volume buangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) masih perlu didorong lebih kuat.
”Secara pengurangan sampah masih relatif kecil, karena kemarin yang baru diolah lebih banyak yang non-organik, sebetulnya sampah yang paling banyak kan organik,” jelas Tri Adhianto.
Lebih lanjut, ia juga membenarkan bahwa ancaman banjir di beberapa titik lokasi penampungan masih menjadi pekerjaan rumah yang menghambat produktivitas daur ulang.
”Sehingga ada beberapa juga bank sampah tidak berjalan untuk menyelesaikan persoalan pengelolaan sampah organik. Tapi yang jelas kita masih terus optimalkan, justru yang kita harapkan adalah bagaimana mengelola sampah non-organiknya dan bagaimana membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah,” tutupnya.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli