BEKASISATU, JAKARTA – Industri jasa pengamanan di Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan standarisasi sumber daya manusia (SDM). Pendiri Security Phisik Dinamika (SPD), Muhammad Ali Ahmad, atau yang akrab disapa Panglima Ali, menegaskan bahwa keberadaan Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) mandiri merupakan syarat mutlak bagi Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) yang profesional.
Panglima Ali menyoroti fenomena banyaknya BUJP yang saat ini hanya mengandalkan tenaga siap pakai tanpa memiliki fasilitas pelatihan sendiri. Menurutnya, hal ini berdampak pada perbedaan kualitas dan loyalitas personel di lapangan.
“Ketika kita ingin bergerak di bidang jasa keamanan, kita harus punya diklat, tidak bisa tidak. Kalau mau melihat kualitas perusahaan BUJP, tanya dulu diklatnya,” ujar Panglima Ali saat ditemui di Jakarta.
Ia menceritakan bahwa dedikasinya membangun SPD berawal dari kecintaannya pada profesi pengawal (bodyguard). Sebelum mendirikan BUJP, ia memiliki rekam jejak panjang mengawal tokoh-tokoh nasional, termasuk menjadi ajudan Fahmi Idris pada tahun 2000, hingga dipercaya mengawal Prabowo Subianto dan Wiranto pada periode 2003-2004.
Pengalaman di ring satu itulah yang kemudian ia transformasikan ke dalam kurikulum pendidikan di SPD. Meski sempat fokus pada pelatihan bela diri untuk pengawal elit, ia melihat kebutuhan pasar yang lebih besar pada sektor satuan pengamanan (Satpam).
“Kita latih segala macam kemampuan bela diri, tapi ternyata orang lebih membutuhkan satpam, maka akhirnya kita beralih ke pelatihan satpam secara profesional,” lanjutnya.
Selama 27 tahun berdiri, SPD kini memiliki fasilitas Pusdiklat yang sangat mumpuni. Di Citeureup, Jawa Barat, terdapat lahan seluas 5 hektare yang dilengkapi berbagai fasilitas latihan, termasuk kendaraan taktis. Selain itu, SPD juga mengoperasikan pusat pelatihan di wilayah Cilandak, Jakarta Selatan.
Uniknya, sistem pendidikan di SPD tidak hanya mengedepankan ketangkasan fisik. Panglima Ali menekankan pentingnya aspek spiritual dan pembentukan karakter (adab) bagi para calon personel. Para siswa diwajibkan melaksanakan shalat berjamaah serta didorong menjalankan puasa sunah guna memperkuat integritas moral.
“Di SPD, adab dan sikap nomor satu. Etika selalu kami kedepankan di samping keterampilan dasar sebagai petugas keamanan,” tegas pria yang membangun bisnisnya dari nol ini.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap lulusan SPD tidak hanya terampil dalam pengamanan fisik, tetapi juga memiliki spesialisasi dan mentalitas yang kuat dalam menjalankan tugas di sektor industri, perdagangan, maupun pemukiman.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli