Berita Utama Bekasi Satu

Petaka Rel Tak Berpintu: Awal Mula Adu Banteng Kereta di Kota Bekasi

27 April 2026 Administrator Desa

BEKASISATU, KOTA BEKASI – Sebuah taksi listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu jalan Ampera Kecamatan Bekasi Timur menjadi awal mula efek domino tragedi mematikan Adu Banteng Kereta di Stasiun Bekasi Timur (28/04/26).

Hal ini menyisakan teka-teki besar: bagaimana sebuah pintu rel tak berpintu serta kegagalan sistem kelistrikan mobil memicu tabrakan adu banteng antara Commuter Line (KRL) dan KA Argo Bromo Anggrek?

Investigasi awal di lapangan menunjukkan bahwa tragedi ini bermula di kawasan Ampera, Kecamatan Bekasi Timur. Sebuah taksi listrik merek VinFast tiba-tiba kehilangan daya tepat di tengah perlintasan. Maut mulai mengintai ketika sistem kelistrikan mobil tersebut diduga terkunci otomatis (autolock), membuatnya lumpuh total dan tidak bisa didorong secara manual oleh warga.

Muhamad Rizki (24), saksi mata di lokasi yang malam itu mencoba mengevakuasi taksi nahas tersebut, menceritakan detik-detik menegangkan sebelum benturan pertama terjadi.

“Katanya sih mobilnya mogok waktu mau melintas rel tak berpintu di Ampera. Warga sudah mencoba dorong tapi rodanya seperti terkunci mati. Nggak lama, ada KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta sudah sangat dekat,” ungkap Rizki.

Taksi kosong tersebut dihantam dan terseret KRL sejauh 100 meter. Insiden di Ampera ini diduga kuat memaksa KRL berhenti mendadak atau terhambat lajunya hingga ke area Stasiun Bekasi Timur.

Namun, malapetaka tidak berhenti di situ. Di tengah kekacauan persinyalan malam itu, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju cepat dari arah belakang gagal mengerem dan menghantam keras gerbong ekor KRL yang mayoritas diisi penumpang wanita.

Benturan inilah yang memicu kerusakan fatal dan mengakibatkan 7 nyawa meninggal dunia puluhan orang luka berat akibat tragedi berdarah adu banteng KRL di Stasiun Bekasi Timur.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, yang langsung turun ke titik benturan bersama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco, Kapolda Metro Jaya dan Dirut PT KAI, Bobby Rasyidin, mendapati puluhan penumpang KRL terhimpit di dalam ruang kabin yang ringsek.

“Prioritas utama kami malam ini adalah keselamatan dan penanganan korban. Semua harus tertangani cepat dan tepat. Kami tidak ingin ada korban yang terlambat tertangani,” tegas Tri Adhianto saat memimpin koordinasi penyelamatan darurat di tengah puing-puing besi yang berserakan.

Misteri mengenai mengapa sistem persinyalan kereta jarak jauh tidak memberikan peringatan dini terhadap KRL yang tertahan masih didalami oleh pihak berwenang. Di saat yang sama, Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa sangat berpotensi bertambah mengingat sempitnya ruang evakuasi di dalam gerbong.

“Jadi saya mendapatkan informasi bahwa sudah dievakuasi sebanyak 29 orang pada saat ini sudah di rumah sakit, sementara tiga meninggal,” ungkap Dasco.

Kini, tim KNKT dan investigator PT KAI tengah membedah dua TKP yang saling berkaitan ini—dari sistem kelistrikan taksi yang mengunci maut di Ampera, hingga teka-teki persinyalan yang menuntun Argo Bromo menghancurkan gerbong KRL di Bekasi Timur.

Sumber Berita:

Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Baca di Sumber Asli
Bagikan: