BEKASISATU, KOTA BEKASI — Babak baru pelayanan air bersih di wilayah Bekasi resmi dimulai. Setelah melalui proses yang cukup panjang melintasi berbagai periode kepemimpinan, pemisahan aset BUMD air minum antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi akhirnya tuntas secara keseluruhan.
Kepastian ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) aset dan wilayah layanan Perumda Tirta Bhagasasi Cabang Kota (Poncol) serta Cabang Pondok Ungu. Penandatanganan dilakukan langsung di Pendopo Wali Kota Bekasi, Senin (20/07/26).
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menegaskan bahwa penyerahan aset ini merupakan langkah strategis untuk memangkas birokrasi yang selama ini menghambat pengembangan layanan. Ke depan, seluruh persoalan operasional tidak lagi menjadi urusan antar-pemerintah (government to government), melainkan murni dikelola secara bisnis antar-BUMD (business to business).
“Hari ini penyerahan secara keseluruhan apa yang disesuaikan dengan perjanjian. Ini menjadi satu model bagaimana proses itu berjalan dengan baik dan lancar dari sisi administrasi maupun teknis. Hari ini tuntas,” ujar Tri Adhianto usai kegiatan.
Ia menjelaskan, lambatnya pengembangan BUMD selama ini kerap terganjal aturan birokrasi ganda. Pemisahan ini dipastikan akan mempercepat laju perusahaan dalam melayani warga.
“Kalau masih bergabung, kebijakannya memperlambat proses pengembangan BUMD. Misal saat mau kerja sama dengan pihak ketiga, harus ada persetujuan dua kepala daerah dan prosesnya panjang. Sekarang dua Perumda ini mobilitasnya bisa lebih tinggi, dan target 47 persen warga Kota Bekasi tercover air bersih dalam 5 tahun ke depan bisa tercapai,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, menyambut baik tuntasnya alih kelola aset ini. Ia menyoroti pentingnya penertiban administrasi agar pelayanan kepada rakyat tidak lagi tumpang tindih.
“Kita ingin semuanya terakomodir untuk masyarakat. Secara administrasi juga kalau aset kita ada di kota, atau aset kota ada di kita kan susah. Makanya tahapan demi tahapan kita selesaikan, walaupun agak lama dan berganti beberapa kepala daerah, tapi tujuannya baik agar pelayanan masyarakat terpenuhi,” tutur Asep.
Asep juga menambahkan, pihaknya akan segera menggelar rapat internal bersama tim teknis untuk membahas penyesuaian modal dan stabilitas keuangan Perumda Tirta Bhagasasi pasca-penyerahan dua cabang tersebut.
Di sisi lain, beralihnya dua cabang baru ini menjadi tantangan tersendiri bagi Perumda Tirta Patriot (PDAM Kota Bekasi). Direktur Utama Perumda Tirta Patriot, Ali Imam Faryadi, menyatakan bahwa pihaknya kini langsung berfokus pada proses masa transisi manajemen dan integrasi sistem.
“Menerima dua cabang ini bukan sekadar benda mati, tapi banyak hal yang harus kita upgrade untuk disesuaikan dari manajemen Bhagasasi ke manajemen kami di Tirta Patriot, terutama dari aspek pegawai dan sistem. Satu hingga dua bulan ke depan, fokus kami adalah memanajemen masuknya dua cabang ini,” jelas Ali.
Selain fokus pada integrasi internal, Aweng juga memastikan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi potensi kekeringan di Kota Bekasi.
“Paling tidak masyarakat masih bisa mendapatkan air, tidak separah tahun 2023,” tutupnya.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli