infobekasi.co.id – Di balik candaan kaleng biskuit isi rengginang, camilan tradisional ini justru menyimpan nilai sejarah, kebersamaan, hingga simbol kesederhanaan yang kuat. Apalagi saat hari lebaran, di rumah perkampungan kerap kita jumpai di meja ruang tamu.
Rengginang, kue yang terbuat dari nasi atau beras ketan yang dikeringkan lalu digoreng hingga mengembang. Makanan ini termasuk kudapan khas masyarakat di perkampungan tempo dulu,sudah turun temurun hadir saat hari raya Idulfitri.
Data yang dihimpun infobekasi, banyak orang mengira rengginang berasal dari Betawi, tetapi sejumlah sumber menyebut asalnya dari wilayah Sunda, khususnya Jawa Barat dan Banten. Nama rengginang diduga berasal dari kata raginang, muncul dari cerita masyarakat tempo dulu ketika hendak membuat tape ketan tetapi ragi tidak tersedia. Ketan yang sudah dikukus kemudian dibentuk, dijemur, digoreng, dan ternyata rasanya disukai banyak orang. Seiring waktu, raginang berubah menjadi rengginang.
Proses pembuatannya sederhana, mengukus ketan, membentuk, menjemur, lalu menggoreng, makanan ini mudah dibuat masyarakat pedesaan dan menjadi bagian dari tradisi kuliner turun-temurun.
Di banyak daerah, pembuatan rengginang biasanya melibatkan anggota keluarga atau tetangga, terutama menjelang acara besar seperti pernikahan, hajatan, atau hari raya. Tradisi ini melambangkan kebersamaan dan semangat berbagi dalam masyarakat.
Rengginang juga sering disajikan untuk tamu sebagai bentuk penghormatan dan keramahan tuan rumah. Karena itu, keberadaannya tidak sekadar makanan ringan, tetapi juga memiliki makna sosial.
Kenapa Identik dengan lebaran? Di beberapa wilayah, termasuk Bekasi, rengginang hampir selalu hadir saat Idulfitri. Bahkan ada anggapan tidak lengkap Lebaran tanpa rengginang. Biasanya pembuatannya dimulai sejak akhir Ramadan untuk disajikan saat hari raya.
Kesederhanaan bahan dan rasa membuatnya menjadi simbol makanan rakyat yang merakyat, berbeda dengan kue kering modern yang lebih mahal. Namun justru karena itulah, rengginang menjadi makanan nostalgia yang dirindukan banyak orang setiap Lebaran.
Salah satu alasan rengginang sering jadi bahan olok-olokan adalah kebiasaan masyarakat menyimpannya di kaleng bekas biskuit terkenal. Saat bertamu, orang sering berharap menemukan kue premium, tetapi ternyata isinya rengginang.
Fenomena ini memunculkan banyak candaan di media sosial karena dianggap plot twist, bahasa anak sekarang diprank, mengejutkan tamu. Namun di sisi lain, hal tersebut juga menggambarkan budaya hemat dan kebiasaan memanfaatkan kembali wadah yang masih layak pakai.
Meski tradisional, rengginang terus berkembang. Kini muncul berbagai inovasi rasa seperti keju, rumput laut, hingga cokelat untuk menarik generasi muda dan pasar modern. Bahkan beberapa produsen menjadikannya produk ekspor.
Perkembangan ini menunjukkan, makanan tradisional tetap bisa bertahan di tengah gempuran camilan modern. Di balik statusnya sebagai bahan lelucon, rengginang sebenarnya mencerminkan banyak hal, mulai dari sejarah kiner khas Indonesia hingga nostalgia. Karena kesederhanaanannya, kue rengginang menjadi bagian dari memori kolektif Lebaran yang sulit tergantikan dan dilupakan.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli