Berita Utama Bekasi Satu

Faktor LSL Picu Penyebaran HIV Kota Bekasi, Temuan Kasus Capai 762

18 June 2026 Administrator Desa

BEKASISATU, KOTA BEKASI – Kota Bekasi tengah menghadapi tantangan serius di sektor kesehatan. Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 762 kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) di wilayah ini. Dari jumlah tersebut, perilaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) menjadi penyumbang terbesar dengan mencatatkan lebih dari 250 kasus.

​Fakta tersebut diungkapkan oleh Yayasan Grapiks Bekasi, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak aktif sebagai konsultan kesehatan dan penanganan HIV. Temuan ini menyoroti bahwa transmisi melalui kontak seksual masih menjadi faktor paling dominan dalam rantai penyebaran HIV di Kota Patriot.

​Direktur Yayasan Grapiks Bekasi, Daniel Ramadhan, menjelaskan bahwa tren penyebaran kasus HIV di Kota Bekasi terus merangkak naik setiap tahunnya.

​”Yang catatannya pada Tahun 2025 lalu secara angka kasus HIV ini mencapai 762 kasus. Sebelumnya, pada tahun 2024 mencapai 706 kasus. Mayoritas memang disebabkan oleh aktivitas seksual,” ujar Daniel kepada wartawan, Rabu (17/06/26).

​Secara kumulatif, Daniel menyebutkan bahwa total warga yang terjangkit HIV di Kota Bekasi hingga saat ini diperkirakan telah menyentuh angka 5.000 orang lebih. Data rinci terkait sebaran tersebut dikelola langsung oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi.

​Meluruskan Pemahaman Tentang LSL

​Untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada masyarakat, Daniel menyoroti bahwa kategori LSL dalam program penanganan HIV tidak selalu berpatokan pada identitas atau orientasi seksual (LGBT) seseorang.

​”Di program HIV kita mengenalnya LSL atau lelaki-seks-laki. Jadi bukan hanya mereka yang mendeklarasikan punya orientasi tertentu. Meskipun dia tidak memiliki orientasi menyimpang, tapi apabila dia pernah berhubungan sesama jenis sekali saja, maka dia langsung masuk kategori LSL,” tegasnya.

​Meski demikian, Daniel tidak menampik bahwa peningkatan tren LGBT di tengah masyarakat berbanding lurus dengan tingginya risiko penularan HIV. Menurutnya, ini adalah sebuah alarm peringatan bagi seluruh pihak terkait untuk lebih memperketat edukasi.

​”Tentu saja meningkat karena ada sokongan dari faktor LGBT. Jadi kalau LGBT-nya meningkat, berarti HIV mau tidak mau biasanya pasti ikut meningkat,” kata Daniel.

​Kini, tantangan terbesarnya berada pada ranah pencegahan. Yayasan Grapiks mendesak agar pemerintah dan elemen masyarakat bisa berkolaborasi untuk memutus mata rantai penularan di kelompok risiko tinggi.

​”Tinggal sejauh mana upaya pencegahan dilakukan. Kalau pencegahan bagi kelompok LSL ini tidak masif dan tidak serius, maka dampak buruknya akan langsung terlihat pada ledakan angka kasus HIV ke depan,” tutupnya.

Sumber Berita:

Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Baca di Sumber Asli
Bagikan: