BEKASISATU, KOTA BEKASI — Tingginya tingkat pencemaran lingkungan yang memicu krisis kesehatan dan ekologis memantik keresahan mendalam bagi generasi muda di Kota Bekasi. Melalui aksi simpatik di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Bekasi, Minggu (14/06/26), kelompok yang tergabung dalam “Jejaring Bekasi Pukul Polusi” menyuarakan desakan keras agar pemerintah segera memensiunkan sumber-sumber polusi mematikan di wilayah tersebut.
Pemerintah pusat maupun daerah dinilai bergeming menghadapi masifnya eksploitasi lingkungan. Laju krisis iklim yang memperburuk ruang hidup menjadikan kota ini ibarat “bom waktu” bagi masa depan warganya.
Sorotan utama massa aksi mengarah pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Berdasarkan riset UCLA Emmett Institute melalui STOP Methane Project pada April 2026, Bantargebang kini menduduki peringkat kedua di dunia sebagai penghasil gas metana terbesar. Satelit Carbon Mapper bahkan mencatat emisi metana di sana menyembur lebih dari enam ton setiap jamnya.
“Gunungan sampah yang menjulang tidak hanya menjadi simbol dari krisis lingkungan, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang kompleks,” tegas Dendy Madya dari Artery Performa di sela-sela aksi.Ancaman serupa datang dari sisi utara.
Aktivitas pembakaran batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Babelan milik PT Cikarang Listrindo dituding terus meracuni udara.
Berdasarkan temuan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), PLTU yang melayani kebutuhan kawasan industri tersebut merupakan salah satu penyumbang emisi partikel halus (PM 2.5) tertinggi dibandingkan pembangkit listrik lain di sekitar Jakarta.
Dampak nyata dari kepungan polusi ganda ini langsung menghantam kesehatan pernapasan warga. Dalam pernyataan resminya, Jejaring Bekasi Pukul Polusi membeberkan lonjakan tajam angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Warga Kota Bekasi harus menanggung beban penyakit. Tercatat ada lebih dari 84.000 kasus ISPA pada empat bulan pertama di tahun 2025, dan melonjak menjadi 65.000 kasus hanya dalam kurun waktu tiga bulan pertama tahun 2026,” urai perwakilan jejaring tersebut.
Tingginya angka penyakit ini sejalan dengan hasil riset sosial Aksi Muda Kolektif di sekitar PLTU Babelan pada pertengahan 2025 lalu, di mana batuk dan ISPA menjadi penyakit yang paling mendominasi di tengah himpitan ekonomi warga lokal.
Lebih jauh, krisis iklim akibat tingginya emisi juga memicu bencana hidrometeorologi. Pada awal 2026, banjir parah menenggelamkan wilayah utara Bekasi hingga satu bulan lamanya tanpa surut, menjadikan kawasan ini menghadapi Triple Planetary Crisis—krisis iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Merespons rentetan krisis tersebut, para pemuda Bekasi mendesak adanya transisi energi nol emisi bersih yang sesungguhnya, termasuk menagih komitmen Kawasan Industri Jababeka.
“Kami dengan tegas menolak solusi palsu yang dibalut narasi hijau, seperti proyek PSEL (Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik) untuk Bantargebang, serta substitusi biomassa atau RDF untuk PLTU batu bara. Tidak ada tawaran lain, pensiunkan sumber polusi sekarang juga demi keselamatan generasi,” tutup pernyataan sikap mereka.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli