Berita Utama Bekasi Satu

TPA Sumur Batu 2026: Metode Sanitary Landfill Cegah Longsor dan Penyakit

15 February 2026 Administrator Desa

BEKASISATU, KOTA BEKASI – Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan transformasi total dalam pengelolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumur Batu pada tahun 2026. Meninggalkan cara lama, DLH kini memprioritaskan penerapan metode Sanitary Landfill yang dinilai lebih aman dan ramah lingkungan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menegaskan bahwa langkah ini diambil untuk meminimalisir risiko fatal seperti longsoran sampah dan penyebaran wabah penyakit yang kerap menghantui metode pembuangan terbuka (open dumping).

Menurut Kiswatiningsih, Sanitary Landfill yang diaplikasikan tahun ini memiliki mekanisme pelapisan yang ketat. Berbeda dengan sekadar menumpuk sampah dengan tanah, teknologi ini menggunakan material khusus untuk menjaga stabilitas tumpukan.

“Untuk tahun 2026, TPA Sumur Batu kita prioritaskan dan fokus penggunaan metode Sanitary Landfill. Aplikasinya kita implikasikan terlebih dahulu tahun ini,” ujar Kiswatiningsih dalam keterangannya, Sabtu (14/02/26).

Kiswatiningsih menjelaskan secara teknis, dasar lahan pembuangan metode Sanitary Landfill akan dilapisi terlebih dahulu. Uniknya, dalam periode waktu tertentu, tumpukan sampah tidak langsung ditimbun tanah, melainkan ditutup menggunakan bio plastik.

“Teknologi Sanitary Landfill itu tidak hanya dasarnya yang kita lapisi. Nanti secara beberapa waktu tertentu sampahnya kita tutup dengan bio plastik guna meminimalisir terjadinya longsoran sampah. Nanti atasnya bisa dikasih sampah lagi, tutup lagi sama bio plastik,” jelasnya.

Penggunaan bio plastik serta geomembran menjadi kunci perbedaan dengan metode open dumping. Kiswatiningsih menekankan bahwa lapisan penutup akhir (final cover) akan menggunakan geomembran untuk memastikan isolasi sampah yang sempurna ketika zona tersebut sudah penuh.

“Jadi metode Sanitary Landfill itu sampahnya tidak ditumpuk dengan tanah karena ini berbeda dengan metode open dumping, melainkan nanti ditutup dengan geomembran. Nah, yang benar-benar sudah tidak ditambah sampah, itu nanti ditutup dengan yang namanya geomembran,” paparnya.

Lebih jauh, ia menyoroti dampak kesehatan dari metode ini. Penutupan sampah yang rapat dinilai efektif memutus rantai perkembangbiakan vektor penyakit terutama dari perkembangan biakan lalat.

“Kenapa itu penting? Karena saat ditutup itu, yang namanya lalat tidak berkembang biak. Jadi sumber penyakitnya kan dari lalatnya nih, makanya dengan adanya metode sanitary landfill ini bisa meminimalisir persoalan tersebut disamping mengurangi terjadinya longsoran sampah,” pungkas Kiswatiningsih.

Langkah modernisasi TPA Sumur Batu ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan sampah di Kota Bekasi, sekaligus menjamin kualitas udara dan kesehatan warga sekitar lokasi pembuangan.

Sumber Berita:

Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Baca di Sumber Asli
Bagikan: