BEKASISATU, JAKARTA – Aktris senior Ayu Azhari kembali menunjukkan kelasnya di layar lebar lewat film terbaru bertajuk Suamiku, Lukaku. Bukan sekadar berakting, keterlibatan Ayu dalam film garapan sutradara Viva Westi dan Sharad Sharan ini membawa misi personal yang mendalam: memecah kebisuan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Dalam acara preview film dan diskusi yang dihelat Women’s Crisis Center (WCC) Puantara bersama Harakah Majelis Taklim (HMT) di Jakarta, Minggu (08/02/26), Ayu berbagi pandangannya tentang karakter Fiqiah yang ia perankan.
Fiqiah digambarkan sebagai ibu dari Aminah (tokoh utama), yang ternyata menyimpan luka lama sebagai korban KDRT namun memilih bungkam.
“Tokoh Fiqiah ini adalah korban KDRT dalam waktu yang lama dan tidak berani bersuara. Ia memilih diam, yang kemudian (pola kekerasan itu) menurun pada anaknya,” ungkap Ayu Azhari
Bagi Ayu, peran ini adalah cerminan realitas pahit yang masih banyak terjadi di masyarakat. Ketakutan untuk melapor seringkali membuat kekerasan menjadi ‘warisan’ trauma antargenerasi. Oleh karena itu, ia menyerukan agar perempuan Indonesia berhenti menormalisasi rasa sakit atas nama kesabaran.
“Tugas kita bersama-sama menggaungkan kekerasan tidak boleh ditoleransi. Kita harus memecah kesunyian, jangan kita pendam sendiri karena kesehatan kita akan terganggu,” tegas aktris yang populer sejak era 90-an ini.
Film sebagai Media Edukasi
Ayu berharap Suamiku, Lukaku tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi para orang tua, calon suami, dan calon istri. Film yang turut dibintangi oleh Acha Septriasa, Baim Wong, dan Raline Shah ini dinilai Ayu sangat efektif dalam membangun kesadaran (awareness) publik.
“Film ini sangat memberikan awareness untuk kita peka terhadap KDRT. Mudah-mudahan bisa menjadi bekal bagi orang tua supaya memberikan arahan yang cukup bagi anak-anaknya,” tambah Ayu.
Senada dengan Ayu, Sutradara Viva Westi menjelaskan bahwa film ini lahir dari kegelisahan mendengar banyaknya cerita pilu perempuan. Riset mendalam hingga pelibatan intimacy coordinator seperti Putri Ayudya dilakukan untuk memastikan setiap adegan, terutama yang sensitif, tetap menghormati batas-batas etika namun sampai pesannya ke penonton.
“Film ini berangkat dari perasaan tidak enak mendengar cerita KDRT. Semoga membuat sedikit perubahan bagi perempuan-perempuan yang mengalaminya,” ujar Viva Westi.
Dukungan Lintas Sektor
Acara diskusi yang membedah film ini juga menghadirkan perspektif agama dan psikologi. Ustadz Dr. Nur Rofiah menekankan pentingnya berhenti menormalisasi kezaliman dalam rumah tangga. Sementara itu, mantan Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziah, yang kini menjabat Ketua Pembina HMT, mengapresiasi keberanian sineas mengangkat isu sensitif ini ke layar lebar.
Melalui Suamiku, Lukaku, Ayu Azhari dan seluruh tim produksi berharap angka kasus kekerasan terhadap perempuan—yang menurut Komnas Perempuan mencapai lebih dari 339.000 kasus—dapat ditekan melalui keberanian korban untuk bersuara.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli