BEKASISATU, KOTA BEKASI — Pandangan sebelah mata dan rentetan cibiran tak selamanya berujung pada keterpurukan. Di tangan Rizki Topananda, segala bentuk hinaan justru diramu menjadi bahan bakar motivasi yang melahirkan sebuah buku biografi inspiratif bertajuk “Bocah Ledok”.
Karya literasi ini merekam jejak perjuangan Rizki melepaskan diri dari himpitan ekonomi sekaligus melawan stigma sosial. Istilah ‘bocah ledok’ sendiri kental dengan budaya Betawi dan masyarakat Bekasi, sering disematkan sebagai ejekan merendahkan bagi seseorang yang dianggap minim pengalaman alias ‘bocah kemarin sore’.
Sang penulis buku, R Nur Alam, membeberkan fakta menarik di balik penyusunan naskah ini. Pada mulanya, ia berniat mengupas rekam jejak karir politik Rizki. Namun, arah tulisan banting setir usai ia menyelami kisah masa lalu sang tokoh secara mendalam.
“Awalnya memang ingin mengangkat perjalanan politik. Tapi setelah mendengar langsung cerita hidupnya, ternyata ada pesan perjuangan yang jauh lebih kuat,” ungkap Alam kepada wartawan, Sabtu (16/05/26).
Di balik label ejekan masa lalu tersebut, Alam menangkap ada mental baja yang ditempa oleh keadaan. Rizki, kata Alam, dididik sejak kecil untuk tidak membalas cibiran dengan amarah, melainkan dengan pembuktian nyata lewat kerja keras.
“Pesannya sederhana, jangan sibuk membalas hinaan. Tetap belajar, tetap berjalan, karena proses tidak akan mengkhianati hasil,” tegas Alam.
Bagi Rizki Topananda, peluncuran buku ini adalah sebuah kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meski rekam jejaknya kini dapat dibaca publik, ia menekankan bahwa karya ini bukanlah sebuah panggung untuk mengemis simpati.
“Buku ini bukan tentang menjual penderitaan. Tapi tentang bagaimana seseorang tetap bertahan dan terus berjuang dalam kondisi apa pun,” ujar Rizki.
Ia menuturkan bahwa proses perumusan buku ini mengalir secara spontan melalui rangkaian diskusi santai bersama keluarga dan kerabat dekat, hingga akhirnya mengerucut pada tema besar tentang perjuangan seseorang yang ‘diremehkan’.
“Semua berjalan alami. Bahkan launching buku ini juga sebenarnya di luar rencana besar kami. Tapi ternyata semuanya seperti menemukan jalannya sendiri,” tutupnya bersahaja.
Lewat kisah Bocah Ledok, publik diingatkan kembali bahwa latar belakang ekonomi yang sulit bukanlah vonis mati untuk meraih kesuksesan. Dalam waktu dekat, karya sarat motivasi ini akan segera didistribusikan secara luas dan dapat diakses melalui marketplace, media sosial, hingga jaringan toko buku.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli