Berita Utama Info Bekasi

Senjakala Angkot, Mengenang Kejayaan Koasi Sebelum Era Aplikasi

10 February 2026 Administrator Desa

Infobekasi.co.id – Pada dekade 1990, hingga tahun 2000-an, angkutan kota (angkot) bukan sekadar alat transportasi di Kota Bekasi. Ia adalah nadi kota. Setiap pagi, ratusan angkot dari berbagai trayek, termasuk angkot koasi K10 rute Ujungharapan menuju Terminal Bekasi, mengalir memenuhi ruas jalan utama.

Jalan Ujungharapan, Kaliabang Tengah, Jalan Ahmad Yani, hingga ke Terminal Bekasi menjadi saksi bisu betapa koasi menghidupkan denyut ekonomi dan aktivitas warga.

Masa itu kerap dikenang para sopir sebagai era keemasan. Jumlah penumpang melimpah, frekuensi perjalanan padat, dan waktu tunggu hampir tak ada. Angkot jarang berhenti lama di pangkalan karena selalu ada penumpang yang naik dan turun di setiap persimpangan.

“Masa itu masa kejayaaan angkot. Saya narik selalu ramai, penumpang penuh, bahkan ada yang sampai gelantungan di pintu,” kenang Amin, pensiunan sopir koasi K10 jurusan Ujungharapan-Terminal Bekasi, kepada infobekasi, Selasa (10/2).

Pelanggannya lintas generasi. Pagi hari didominasi pelajar dan pekerja,  dan ibu-ibu yang berbelanja ke pasar, sementara sore hingga malam diisi oleh karyawan yang pulang kerja. Terminal Bekasi menjadi titik akhir angkot, sebuah simpul transportasi yang hidup nyaris tanpa jeda.

Di masa kejayaannya, satu armada angkot bisa menempuh belasan rit per hari. Setoran harian relatif aman, bahkan lebih dari cukup untuk menabung. Banyak sopir mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang tinggi dari hasil menarik angkot. Beberapa di antaranya bahkan sanggup mencicil rumah sederhana atau menambah armada baru.

“Saya narik angkot sekitar tahun awal 2000-an. Waktu itu anak sekolah masih banyak yang naik angkot. Orang kerja juga antri. Lumayan lah kalau buat makan dan sekolahin anak,” kenang Amin.

Angkot kala itu juga menjadi ruang interaksi sosial yang hangat. Sopir mengenal penumpangnya, begitupun sebaliknya. Tak jarang, anak sekolah diizinkan nebeng gratis dan sopir jarang menolak. Kepercayaan tumbuh di aspal kota yang kala itu belum sepadat sekarang.

Ekosistem kecil pun tumbuh subur di sekitar angkot. Warung makan, tukang tambal ban, warung, hingga jasa terminal hidup berdampingan. Semua bergerak seiring ramainya lalu lintas penumpang.

Namun, kejayaan itu perlahan surut seiring perubahan zaman. Masuknya sepeda motor sebagai kendaraan pribadi massal, disusul kehadiran transportasi modern serta berbasis aplikasi, perlahan menggerus jumlah penumpang. Jalanan yang kian macet membuat waktu tempuh tak lagi pasti, sehingga angkot mulai kehilangan daya saing.

Hari ini, kejayaan itu tinggal cerita. Angkot rute Ujungharapan, Terminal Bekasi memang masih melintas, namun tak lagi dengan irama yang sama. Bangku-bangku kosong lebih sering terlihat, dan para sopir kini lebih banyak menunggu daripada melaju.

Meski demikian, angkot tetap menempati tempat istimewa dalam sejarah Kota Bekasi. Ia pernah menjadi tulang punggung mobilitas yang mengantar generasi pelajar, pekerja, hingga pedagang melewati masa pertumbuhan kota.

Sumber Berita:

Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Baca di Sumber Asli
Bagikan: