Infobekasi.co.id – Di saat anak-anak seusianya asyik bermain, Khoirul Ahmad Habibi (11), siswa kelas 4 SDN Srimukti 02, Kabupaten Bekasi, harus bertaruh nasib di jalanan. Demi menyambung pendidikan dan mendapatkan uang jajan, bocah tangguh ini rela bekerja sebagai kernet delman sekaligus pengurus kuda.
Setiap akhir pekan, dan terkadang di hari sekolah, Habibi terlihat telaten mengurusi kuda milik majikannya di pangkalan delman Desa Karang Satria. Upah yang ia terima tak tentu, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp50.000, tergantung ramai atau tidaknya penumpang.
“Saya biasanya narik Sabtu atau Minggu, (uang hasil kerja) buat sekolah,” ujar Habibi dengan polos.
Perjuangan Habibi bukan tanpa alasan. Keluarganya kini tengah terhimpit kesulitan ekonomi yang hebat. Ayahnya, Asep Rusliadi, hanyalah seorang pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Beban hidup Asep kian berat karena ia harus menghidupi istri, tiga orang anak, mertua yang menderita stroke, serta seorang adik ipar penyandang disabilitas mental. Kondisi semakin memprihatinkan karena saat ini ibu Habibi harus berada di rumah sakit untuk menjaga anak keduanya yang tengah jatuh sakit.
Akibat beban hidup yang menghimpit ini, Habibi bahkan sempat tidak masuk sekolah selama tiga bulan demi fokus membantu mencari uang di kandang kuda.
“Saya mengizinkan (Habibi kerja) soalnya saya gak bisa ngasih buat jajan. Yang penting ada buat jajan dan sekolah,” ungkap Asep dengan nada berat.
Meski harus menanggung beban yang tak ringan di usia dini, semangat Habibi tidak luntur. Setiap hari sekolah, Ia tetap harus berjalan kaki lebih dari satu kilometer untuk mencapai gerbang sekolahnya. Meski lelah mengurus kuda dan menjadi kernet, semangatnya untuk mengejar cita-cita tidak pernah padam.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli