infobekasi.co.id – Saat berkumandang takbir, bedug menjadi alat pengiring lantunan suara takbiran di musala, mesjid hingga arak-arakan di jalan raya meramaikan datangnya lebaran Idulfitri. Namun, tahu kah kalian perkembangan bedug dari dulu hingga waya gini? .
Bedug, alat musik perkusi tradisional yang identik dengan membran besar berwarna keemasan, bukan hanya sekadar instrumen suara. Sejak zaman dahulu hingga kini, ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sejarah dan kehidupan bermasyarakat Indonesia.
Meskipun sering dikaitkan dengan kegiatan agama Islam, bentuk drum besar serupa bedug telah ada di Nusantara jauh sebelum masa penyebaran agama baru. Pada awalnya, masyarakat menggunakan alat ini untuk mengatur aktivitas bersama dan memberikan isyarat dalam situasi darurat.
Ketika Islam mulai menyebar pada abad ke-13 hingga ke-15, bedug mendapatkan peran baru sebagai alat untuk menyeru umat beribadah. Pada masa kerajaan Islam seperti Demak dan Mataram, Bedug bahkan menjadi simbol kekuasaan kerajaan, digunakan dalam upacara kenegaraan dan bahkan untuk memotivasi pasukan dalam pertempuran.
Selama masa kolonial, bedug tetap bertahan sebagai wadah identitas budaya dan keagamaan masyarakat. Kini, ia tidak hanya ditemukan di lingkungan masjid, tetapi juga sering menghiasi acara budaya, festival nasional, dan pertunjukan seni modern sebagai representasi warisan budaya Indonesia.
Secara umum, bedug memiliki empat fungsi utama yang masih relevan hingga saat ini, berikut paparannya:
FUNGSI KEAGAMAAN: Menyampaikan panggilan waktu shalat (sebagai pelengkap adzan di beberapa daerah), mengumumkan acara khutbah Jumat, dan menjadi irama dalam perayaan hari raya serta kegiatan zikir bersama. FUNGSI SOSIAL: Dahulu digunakan untuk memberi isyarat darurat seperti kebakaran atau ancaman musuh, serta mengatur waktu kerja di lahan pertanian. Kini menjadi bagian dari acara pernikahan, khitanan, dan perayaan kemerdekaan yang mempererat tali silaturahmi antarwarga.
FUNGSI BUDAYA DAN SENI: Menjadi instrumen penting dalam kesenian tradisional seperti tayuban, kuda lumping, dan wayang kulit. Belakangan, bedug juga diperkenalkan dalam pertunjukan musik kontemporer untuk mempromosikan budaya Indonesia ke kancah internasional. FUNGSI SIMBOLIS: Merupakan bukti perjalanan peradaban Nusantara dan menjadi lambang kebersamaan, kekuatan, serta identitas agama dan budaya di berbagai daerah.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli