Berita Utama Bekasi Satu

Siap-siap, Masuk SMP di Kota Bekasi Bakal Ada Tes Akademik

07 February 2026 Administrator Desa

BEKASISATU, KOTA BEKASI – Calon siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bekasi tahun ini tampaknya harus mempersiapkan diri lebih ekstra. Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi memberikan sinyal kuat akan menerapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) dalam rangkaian Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026.

Langkah ini diambil merespons kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang membuka opsi penggunaan TKA sebagai alat ukur standar pendidikan yang lebih objektif.

Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Kota Bekasi, Agus Enap, mengungkapkan bahwa meski belum menjadi syarat mutlak nasional, pihaknya akan memberlakukan skema “semi-wajib” untuk sekolah negeri maupun swasta di wilayahnya.

“Jadi kemungkinan TKA itu semacam ‘semi’ yang akan kita wajibkan kepada seluruh Sekolah Negeri dan Swasta. Ini menjadi salah satu bahan pemetaan sekaligus syarat kompetensi bagi siswa,” ujar Agus, dikutip Sabtu (07/02/26).

Fokus: Matematika dan Bahasa Indonesia

Berbeda dengan sistem zonasi murni, TKA ini dirancang untuk menguji kembali kemampuan dasar siswa alias calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Agus membocorkan bahwa materi yang akan diujikan mengerucut pada mata pelajaran fondasi.

“Pemerintah pusat sudah cukup bagus mencoba mengukur daya tampung siswa dalam membaca dan berhitung. Maka sasarannya adalah mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia dan Matematika,” jelasnya.

Menurut Agus, tes ini krusial untuk melihat apakah kemampuan dasar siswa sudah memenuhi standar sebelum naik ke jenjang menengah.

Rapor Merah untuk SD?

Lebih jauh, Agus menegaskan bahwa hasil TKA ini bukan sekadar alat seleksi masuk SMP, melainkan “kaca benggala” bagi kualitas pengajaran di tingkat Sekolah Dasar (SD). Jika banyak siswa gagal atau nilainya rendah dalam tes ini, maka hal tersebut menjadi indikator adanya masalah dalam proses pembelajaran di sekolah asal mereka.

“Ini menjadi bahan evaluasi. Ketika (input) sekolah menengahnya kurang bagus, maka besar kemungkinan di sekolah dasarnya juga kurang,” tegas Agus.

Ia menambahkan, intervensi program pendidikan tidak bisa dilakukan tanpa data yang valid. Dengan adanya TKA, Disdik berharap bisa mengetahui letak kekurangan siswa—apakah di literasi atau numerasi—sehingga perbaikan bisa dilakukan tepat sasaran di jenjang selanjutnya.

“Itu perlu ada. Untuk apa? Untuk mengukur, kita ini sudah baik belum secara standarisasi pendidikan. Bilamana belum, maka kita harus kejar standar itu,” pungkasnya.

Sumber Berita:

Artikel ini disadur dari Bekasi Satu. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:

Baca di Sumber Asli
Bagikan: