Infobekasi.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan, sebagian besar wilayah Indonesia bakal memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dari rerata klimatologis. Kondisi ini dipicu berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari lalu yang kini bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan, indeks ENSO saat ini berada di angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni. Mulai pertengahan tahun, peluang munculnya El Nino kategori Lemah-Moderat mencapai 50-60 persen. Sementara itu, Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun.
“Sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026, mencakup pesisir utara Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, NTT, serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi,” ujarnya dalam konferensi pers pada 4 Maret lalu.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan, sebanyak 46,5% wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju, meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di 61,4% wilayah Indonesia, dengan sisanya pada Juli (12,6%) dan September (14,3%). Secara umum, musim kemarau akan bersifat bawah normal atau lebih kering di 64,5% wilayah, hanya 0,4% di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi lebih basah.
BMKG mengimbau, agar semua pihak segera mengambil langkah antisipasi, seperti menyesuaikan jadwal tanam bagi petani, memperkuat manajemen sumber daya air, serta meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi risiko karhutla dan penurunan kualitas udara.
Sumber Berita:
Artikel ini disadur dari Info Bekasi. Anda bisa membaca artikel selengkapnya melalui tautan di bawah ini:
Baca di Sumber Asli